NewsRoom.id -Polemik muncul usai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan program Sastra Masuk Kurikulum pada Senin (20/5) lalu. Sebab, sejumlah ormas mengecam keras konten seksual dan kekerasan dalam buku Rekomendasi Sastra Masuk Kurikulum.
Menanggapi hal tersebut, pernyataan tersebut disampaikan Anggota KPU melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (31/5).
IKLAN
GULIR UNTUK MELANJUTKAN KONTEN
“Tidak sekali dua kali ada keributan yang keluar dari kementerian yang membidangi pendidikan. Mengeluarkan suatu kebijakan atau program yang mengundang kontroversi hingga banyak dikritik dan diprotes, kemudian dihentikan atau direvisi. Kalau ibarat supir, Mas Menteri ibarat supir yang ugal-ugalan. Suka melangkah terlalu jauh. “Saya ditilang bolak-balik,” kata Ledia.
Perlu diketahui, Program Kurikulum Sastra menawarkan serangkaian rekomendasi buku sastra untuk siswa SD hingga SMA, namun hal ini justru menimbulkan keributan. Di antara ratusan buku yang direkomendasikan Kemendikbud, ada yang memuat muatan sadis, muatan pornografi, bahkan penyimpangan seksual. Mendapat protes dari masyarakat, ormas, dan anggota DPR, rekomendasi tersebut dinyatakan ditarik dan direvisi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Saya melihat Panduan Rekomendasi Buku Sastra ini satu per satu dan merasa jijik dengan beberapa isinya. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana isi buku yang menggunakan diksi vulgar terkait sadisme, seks, dan penyimpangan seksual bisa dijadikan bagian dari buku pendidikan yang akan dikonsumsi oleh anak-anak sekolah. Kepala BSKAP, Mas Nino dan Mas Menteri sendiri mencoba mengambil buku rekomendasi yang berkonteks vulgar tersebut untuk kemudian dibacakan kepada anak-anaknya. Apakah kamu sanggup melakukannya?” dia berkata.
Ledia mengingatkan, karya sastra, meskipun merupakan cerminan imajinasi pengarang yang berdasarkan imajinasi bebas dan potret masyarakat, tetap perlu memiliki keindahan dan menjunjung tinggi norma. Ini bukan sekedar ekspresi bebas dari keinginan seseorang. Setidaknya, meski buku-buku tersebut beredar secara umum, bukan berarti semuanya layak dihadirkan di sekolah.
“Secara umum, masyarakat sudah lama memperdebatkan pantasnya memotret dan mengungkap realitas sosial kekerasan, sadisme, eksploitasi seksual, pornografi bahkan penyimpangan seksual dalam karya sastra. Kita tidak perlu sengaja menghadirkan sadisme, seksualitas, eksploitasi, pornografi dan lain-lain. bahkan penyimpangan seksual terhadap anak sekolah,” tegas Ledia.
Dijelaskannya, sebenarnya Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Buku Pasal 42 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 75 Tahun 2019 Pasal 11 sudah menjelaskan dengan jelas syarat isi buku yang baik, termasuk tidak bertentangan dengan Pancasila. , tidak mengandung unsur pornografi. , juga kekerasan. Sayangnya, beberapa rekomendasi buku sastra yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru memuat hal tersebut.
“Saya ingatkan Pak Menteri dan jajarannya untuk selalu taat hukum, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, dan juga mengingat tujuan pendidikan nasional. Jadi setiap mau mengeluarkan kebijakan, program atau produk, lakukanlah. “Kajian mendalam terlebih dahulu dengan mengacu pada ketiga hal tersebut, apakah sesuai dengan undang-undang, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional bukanlah hal yang mendidik,” tegas legislator asal Indonesia tersebut. daerah pemilihan Kota Bandung dan Kota Cimahi.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berpendapat bahwa dalam Rekomendasi Penggunaan Buku Sastra disebutkan bahwa buku-buku tersebut perlu dijadikan bahan diskusi untuk mendorong siswa menjauh dari pemikiran hitam putih. Namun, bagi Ledia, argumen tersebut kurang tepat jika merujuk pada pilihan buku yang mengandung konten vulgar.
“Dalam kehidupan sehari-hari, kabar buruk dan baik, informasi positif dan negatif menyerbu kehidupan. Fakta-fakta tersebut cukup menjadi bahan diskusi di rumah dan di sekolah agar anak berpikir kritis, menumbuhkan empati dan mengembangkan karakter baik yang disesuaikan dengan usia dan tingkat kedewasaan siswa, jelasnya.
“Fakta-fakta ini saja memerlukan orang tua dan guru untuk memilahnya dengan susah payah. Jadi tidak perlu lagi kerja keras, kurang pertimbangan, dan kurang bijak dengan memberikan imajinasi vulgar kepada pelajar tentang kekerasan, seks, dan penyimpangan, pungkas politikus Fraksi PKS itu.
NewsRoom.id